Gigi yang sehat dan kuat tidak hanya sekedar pembahasan estetika, namun juga bagian penting dari kesehatan secara menyeluruh. Sayangnya, perlu untuk meningkatkan tidak hanya kesadaran tetapi juga bagaimana masyarakat mengubah kebiasaan yang buruk dalam perawatan gigi.
Hal ini karena kesalahan yang dilakukan dalam proses perawatan gigi dapat menimbulkan masalah-masalah lainnya. Misalnya, gigi berlubang, bau mulut, hingga abses dan penyakit organ dalam lainnya.
Merawat kesehatan mulut tidak cukup dengan menyikat gigi. Bahkan dengan menyikat gigi pun masih perlu diperhatikan apakah teknik yang dilakukan sudah benar atau belum. Di sisi lain, fakta menunjukkan bahwa ada banyak faktor lain yang perlu diperhatikan agar dapat menciptakan kesehatan gigi dan mulut dalam jangka panjang. Dimulai dari cara menyikat yang salah, pemilihan produk yang kurang tepat, hingga kebiasaan makan yang dapat merusak enamel gigi—semuanya dapat berdampak negatif apabila tidak segera diperbaiki.
Sebelum terlambat, yuk cari tahu beberapa kesalahan umum dalam merawat gigi yang mungkin tanpa sadar sering kamu lakukan. Dengan menghindari kebiasaan ini, kamu bisa menjaga kesehatan gigi dan senyum indah dalam jangka panjang!
Source: Freepik
Menyikat gigi dengan cara yang terlalu keras bukan sebuah cara yang tepat untuk membersihkan gigi. Hal ini dikarenakan khawatir akan timbul masalah kesehatan gigi dan mulut lainnya.
Ada beberapa alasan terkait hal tersebut, seperti merusak enamel gigi, timbulnya gigi sensitif, dapat melukai dan menyebabkan gusi menyusut, meningkatnya risiko gigi berlubang, hingga menyebabkan gusi berdarah.
Enamel merupakan lapisan pelindung terluar gigi yang memiliki fungsi untuk melindungi gigi dari kerusakan. Apabila menyikat gigi terlalu keras, enamel bisa terkikis secara perlahan. Akibatnya, gigi menjadi lebih rentan terhadap kerusakan, gigi sensitif, hingga gigi berlubang.
Saat enamel terkikis, lapisan yang berada di bawahnya (dentin) akan menjadi lebih terekspos. Saluran kecil di dalam dentin terhubung ke saraf gigi sehingga gigi menjadi sensitif terhadap makanan/minuman panas, dingin, manis, dan asam.
Di samping itu, menyikat gigi yang terlalu keras dapat melukai gusi dan juga dapat menyebabkan resesi gusi (penyusutan gusi) dalam jangka panjang. Apabila hal ini terjadi, akar gigi dapat terbuka dan semakin rentan terhadap infeksi serta sensitivitas.
Saat enamel terkikis dan gusi yang menyusut, plak dan bakteri akan lebih mudah menyerang bagian gigi yang seharusnya terlindungi. Risiko yang terjadi adalah gigi berlubang dan penyakit gusi.
Menyikat gigi yang terlalu keras juga menyebabkan risiko terjadinya iritasi hingga peradangan pada gusi. Akibatnya, gusi menjadi mudah berdarah saat menyikat gigi atau menggunakan benang gigi. Jika terus menerus terjadi, risiko lainnya yaitu menjadi tanda awal dari peradangan gusi (gingivitis).
Source: Freepik
Sangat penting untuk menyikat gigi sebelum tidur. Sepanjang hari, makanan dan minuman yang kita konsumsi meninggalkan sisa di gusi dan gigi. Apabila tidak dibersihkan, bakteri akan berkembang biak di area tersebut yang akhirnya menyebabkan plak, penyakit gusi, dan gigi berlubang.
Saat tidur, produksi air liur menurun yang berarti lemahnya pertahanan alami mulut. Bakteri dapat berkembang biak lebih cepat serta menghasilkan asam yang dapat merusak enamel gigi. Inilah yang menyebabkan terjadinya peningkatan risiko gigi berlubang dan bau mulut di pagi hari.
Di sisi lain, menyikat gigi sebelum tidur dapat membantu menghilangkan sisa makanan dan plak yang menempel sepanjang hari. Sebagai tambahan, juga memberikan perlindungan ekstra bagi gigi sepanjang malam.
Rutin menyikat gigi sebelum tidur merupakan upaya dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut dalam jangka panjang, menjaga agar nafas tetap segar, serta mengurangi risiko terjadinya penyakit gusi.
Source: Freepik
Sikat gigi saja tidak cukup untuk membersihkan seluruh bagian gigi karena hanya dapat menjangkau sekitar 60% permukaan gigi. Itu sebabnya flossing (membersihkan gigi dengan benang) sangat penting, terutama untuk membersihkan sisa makanan dan plak di sela-sela gigi yang sulit dijangkau.
Plak adalah lapisan lengket yang terbentuk dari bakteri, sisa makanan, dan air liur yang menempel di gigi. Jika tidak dibersihkan dalam 24–72 jam, plak bisa mengeras menjadi karang gigi. Karang gigi yang menumpuk di sekitar gusi bisa menyebabkan iritasi dan peradangan gusi (gingivitis). Jika dibiarkan, kondisi ini bisa berkembang menjadi periodontitis, yaitu penyakit serius yang bisa merusak gusi dan tulang penyangga gigi.
Flossing juga membantu mencegah bau mulut dengan membersihkan sisa makanan yang terselip dan membusuk di sela-sela gigi. Bau mulut sering kali disebabkan oleh bakteri yang menghasilkan senyawa sulfur berbau tidak sedap.
Dengan rutin melakukan flossing, kita bisa menjaga kesehatan gigi dan gusi, mencegah gigi berlubang, menurunkan risiko penyakit gusi, serta menjaga nafas tetap segar. Jadi, flossing bukan sekadar tambahan, tetapi bagian penting dari perawatan gigi yang optimal.
Source: Freepik
Terlalu banyak mengonsumsi makanan dan minuman asam dapat merusak enamel gigi, lapisan terluar yang melindungi gigi dari pembusukan. Enamel dapat semakin melemah oleh asam yang ditemukan dalam makanan dan minuman seperti soda, jus buah, cuka, dan makanan asam lainnya. Gigi lebih rentan terhadap gigi berlubang, pembusukan, dan sensitivitas ketika email terkikis.
Gigi dapat menjadi lebih sensitif terhadap makanan dan minuman panas dan dingin karena email melemah dan mengekspos dentin, lapisan di bawah email. Keseimbangan pH dalam mulut juga dapat terganggu oleh makanan dan minuman dengan tingkat keasaman yang tinggi, yang memudahkan bakteri penyebab gigi berlubang berkembang biak.
Terlalu banyak mengonsumsi makanan dan minuman asam dari waktu ke waktu dapat mempercepat erosi gigi, yang tidak dapat dipulihkan karena ketidakmampuan email gigi untuk beregenerasi. Hal ini dapat menyebabkan perubahan warna gigi, distorsi, dan bahkan kemungkinan lebih tinggi terjadinya kerusakan gigi atau patah jika diabaikan.
Disarankan untuk membatasi asupan makanan dan minuman yang sangat asam, lalu berkumur dengan air setelah mengkonsumsinya. Tahan diri untuk tidak langsung membersihkan gigi setelah mengkonsumsinya untuk mengurangi efek asam yang merusak gigi.
Source: Freepik
Sikat gigi yang sudah usang tidak baik untuk terus digunakan. Hal ini karena bulu sikat sudah ada yang melebar, aus, atau rusak yang tidak lagi efektif dalam membersihkan gigi. Jika plak tidak dibersihkan dengan baik, maka risiko terjadinya penyakit gusi, gigi berlubang, dan bau mulut meningkat.
Sikat gigi yang sudah usang bisa menjadi sarang bakteri. Seiring berjalannya waktu, sikat gigi yang lembab menjadi sarang bakteri, jamur, dan virus. Apabila tetap digunakan, bakteri dapat berpindah ke mulut dan terjad risiko lebih besar lainnya.
American Dental Association (ADA) merekomendasikan penggantian bulu sikat setiap tiga bulan sekali atau lebih cepat. Jika bulu sikat mulai terlihat rusak karena bulu sikat yang aus menjadi lebih kasar dan berpotensi melukai gusi dan menyebabkan iritasi atau bahkan resesi gusi jika digunakan dalam jangka panjang.
Setelah digunakan, sikat gigi harus disimpan di tempat yang kering dan terbuka agar tidak lembab dan mencegah penyebaran bakteri.
Merawat gigi dengan cara yang benar merupakan bentuk investasi jangka panjang untuk kesehatan mulut dan tubuh secara menyeluruh. Kesalahan kecil yang sering dianggap sepele, seperti melewatkan flossing, menyikat gigi terlalu keras, atau menggunakan sikat gigi yang sudah usang, bisa berdampak besar apabila terus diabaikan.
Dengan memahami dan menghindari kebiasaan yang salah, kita bisa menjaga kesehatan gigi agar tetap kuat, bebas dari masalah seperti gigi berlubang, penyakit gusi, dan bau mulut. Jadi, mulailah menerapkan perawatan gigi yang tepat setiap hari, karena senyum sehat berawal dari kebiasaan baik!
Tips Perawatan Gigi dan Mulut
Tips Perawatan Gigi dan Mulut
Tips Perawatan Gigi dan Mulut