08 Jul 2025
Afta adalah luka dangkal berwarna putih kekuningan dengan pinggiran kemerahan yang muncul di dalam rongga mulut, seperti bagian dalam pipi, bibir, lidah, atau langit-langit lunak. Kondisi ini sering disertai nyeri, terutama saat makan atau berbicara. Dalam dunia medis, afta dikenal sebagai Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS).
Berbeda dengan luka dingin (cold sore) yang disebabkan oleh virus herpes, afta tidak menular. Afta merupakan kondisi jinak dan cukup umum, dengan prevalensi sekitar 20% populasi global.
Aphthous ulcer
Recurrent aphthous stomatitis (RAS)
Canker sore
Lesi ulseratif non-herpetik
1. Minor Afta
Jenis paling umum, muncul dalam ukuran kecil (kurang dari 10 mm), dangkal, dan sembuh dalam waktu 7–14 hari tanpa meninggalkan bekas luka.
2. Major Afta
Berukuran lebih besar dari 10 mm, lebih dalam, dan dapat menyebabkan rasa sakit yang lebih hebat. Proses penyembuhan dapat berlangsung 2–6 minggu dan kadang meninggalkan jaringan parut.
3. Herpetiform Afta
Berbentuk banyak ulkus kecil (1–2 mm) yang dapat bergabung menjadi satu luka besar. Meski menyerupai luka herpes, jenis ini tidak disebabkan oleh virus.
Nyeri atau sensasi terbakar sebelum luka muncul
Luka bulat/oval berwarna putih atau kekuningan dengan tepi merah
Nyeri saat makan, berbicara, atau menyikat gigi
Tidak disertai demam (kecuali jika komplikasi)
Bagian dalam pipi
Permukaan bawah lidah
Bibir bagian dalam
Langit-langit lunak
Lantai rongga mulut
Penyebab pasti afta belum sepenuhnya diketahui, namun beberapa faktor yang berperan antara lain:
Cedera mekanis (tergigit, penggunaan kawat gigi, menyikat gigi terlalu keras)
Stres emosional dan kurang tidur
Defisiensi nutrisi (terutama vitamin B12, folat, zat besi, dan zinc)
Alergi terhadap makanan tertentu (seperti cokelat, kacang, kopi, atau buah sitrus)
Pasta gigi mengandung Sodium Lauryl Sulfate (SLS)
Riwayat keluarga dengan kondisi serupa
Gangguan sistemik seperti penyakit Behçet, celiac, Crohn, atau HIV/AIDS
Diagnosis afta ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis oleh dokter atau dokter gigi. Tidak diperlukan tes laboratorium kecuali jika ada dugaan kondisi sistemik lain. Bila luka sering kambuh atau tidak sembuh dalam jangka waktu normal, tes darah dapat dilakukan untuk mengecek kemungkinan defisiensi vitamin atau penyakit autoimun.
Sebagian besar afta sembuh sendiri dalam 1–2 minggu. Namun, terapi dapat diberikan untuk mempercepat penyembuhan dan meredakan nyeri:
Obat topikal: kortikosteroid (triamcinolone acetonide), anestesi lokal (lidocaine, benzocaine), atau antiseptik
Obat kumur: chlorhexidine, air garam, baking soda
Terapi laser: terbukti mempercepat penyembuhan pada kasus berulang
Suplemen nutrisi: vitamin B12, folat, atau zat besi jika ditemukan kekurangan
Gunakan sikat gigi berbulu lembut
Hindari makanan yang keras, pedas, atau asam
Pilih pasta gigi bebas SLS
Kelola stres dan cukup istirahat
Konsumsi makanan bergizi seimbang untuk mencegah defisiensi
Segera konsultasikan ke dokter atau dokter gigi jika:
Luka tidak sembuh dalam 2 minggu
Rasa sakit tidak tertahankan
Afta sering kambuh (lebih dari 3 kali dalam setahun)
Muncul demam, kelelahan, atau pembengkakan kelenjar
Ravikumar P, et al. Recurrent Aphthous Stomatitis: A Review. J Clin Diagn Res. 2017. [PMC5367879]
MSD Manual. Recurrent Aphthous Stomatitis. Texas A&M College of Dentistry.
Dangi S, et al. Therapeutic Modalities in Management of Recurrent Aphthous Ulcers. Dentistry Journal (MDPI). 2023.
American Dental Association (ADA). Glossary of Dental Terms.
Cleveland Clinic. Mouth Ulcers – Causes and Treatments.