05 Aug 2025
Gingivitis adalah peradangan pada jaringan gusi (gingiva) yang ditandai dengan pembengkakan, kemerahan, dan perdarahan, terutama saat menyikat gigi atau flossing.
Kondisi ini merupakan bentuk awal dari penyakit periodontal yang masih dapat disembuhkan jika ditangani dengan tepat.
Tidak seperti periodontitis, gingivitis belum menyebabkan kerusakan permanen pada jaringan penyangga gigi.
Gingivitis umumnya disebabkan oleh penumpukan plak bakteri pada permukaan gigi dan gusi. Plak yang tidak dibersihkan akan menimbulkan iritasi dan memicu reaksi peradangan pada gingiva.
Penyebab utama gingivitis adalah akumulasi plak gigi, yaitu lapisan lengket yang terdiri dari sisa makanan, air liur, dan bakteri yang menempel di permukaan gigi.
Faktor lain yang dapat memicu atau memperburuk gingivitis antara lain:
Kebersihan mulut yang buruk
Perubahan hormonal (pubertas, kehamilan, menopause)
Penyakit sistemik seperti diabetes melitus
Efek samping obat-obatan (misalnya, nifedipine, fenitoin)
Merokok dan kebiasaan konsumsi alkohol
Nutrisi yang kurang, terutama kekurangan vitamin C
Penggunaan ortodontik atau gigi tiruan yang tidak terawat
Gejala gingivitis bisa muncul perlahan dan sering kali tidak disadari hingga kondisi menjadi cukup parah. Beberapa tanda dan gejala khas antara lain:
Gusi berwarna merah terang atau keunguan
Pembengkakan pada gusi, terutama di sekitar leher gigi
Gusi mudah berdarah saat menyikat gigi atau menggunakan benang gigi
Bau mulut (halitosis) yang menetap
Rasa nyeri ringan atau sensasi tidak nyaman di sekitar gusi
Permukaan gusi yang tampak mengkilat atau lebih lunak dari biasanya
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko gingivitis antara lain:
Kebersihan mulut yang buruk: Tidak menyikat gigi secara teratur atau tidak membersihkan sela gigi akan mempercepat akumulasi plak.
Kondisi medis tertentu: Seperti HIV/AIDS, leukemia, dan gangguan imunitas lainnya.
Merokok atau penggunaan tembakau: Menurunkan kemampuan jaringan gusi dalam memperbaiki diri.
Perubahan hormonal: Saat pubertas, kehamilan, dan menopause, peningkatan hormon dapat memperkuat respons inflamasi terhadap plak.
Nutrisi buruk: Kekurangan vitamin C dapat mengganggu regenerasi jaringan gusi.
Stres: Dapat memengaruhi respon imun dan memperparah inflamasi periodontal.
Faktor genetik: Beberapa individu lebih rentan mengalami penyakit periodontal.
Diagnosis gingivitis dilakukan melalui kombinasi pemeriksaan klinis dan evaluasi penunjang. Langkah yang dilakukan meliputi:
Pemeriksaan visual kondisi gusi: dilihat warna, bentuk, dan respons terhadap sentuhan.
Penilaian indeks gingiva: seperti Löe-Silness Gingival Index yang mengukur tingkat peradangan dan perdarahan.
Probing kedalaman sulkus gingiva menggunakan probe periodontal (biasanya <3 mm untuk gingivitis).
Evaluasi adanya karang gigi atau biofilm yang menempel di gigi.
Radiografi hanya dilakukan jika ada kecurigaan progresi menjadi periodontitis.
Jika tidak segera ditangani, gingivitis dapat berkembang menjadi periodontitis, yang menyebabkan kerusakan tulang dan jaringan penyangga gigi. Komplikasi lain meliputi:
Gigi goyang dan lepas akibat kerusakan jaringan periodontal
Abses periodontal
Peningkatan risiko enyakit sistemik, seperti penyakit jantung, stroke, dan komplikasi kehamilan
Gangguan metabolik pada penderita diabetes
Penelitian menunjukkan adanya hubungan timbal balik antara gingivitis/periodontitis dan kontrol glukosa dalam diabetes mellitus.
Pengobatan gingivitis bertujuan untuk menghilangkan plak dan mengontrol peradangan. Beberapa langkah penting meliputi:
Skaling dan root planing: Prosedur untuk membersihkan plak dan kalkulus dari permukaan gigi dan akar.
Penggunaan obat kumur antiseptik: Seperti chlorhexidine 0,12%, cetylpyridinium chloride, atau herbal seperti green tea dan tea tree oil.
Penerapan teknik menyikat gigi yang benar: Gunakan sikat berbulu lembut dan pasta gigi berfluoride.
Pemakaian benang gigi atau sikat interdental: Untuk membersihkan sela-sela gigi yang sulit dijangkau.
Penggunaan probiotik oral: Lactobacillus reuteri terbukti menurunkan indeks gingiva secara signifikan (Benavides-Reyes et al., 2025).
Modifikasi gaya hidup: Termasuk berhenti merokok dan mengatur pola makan seimbang.
Gingivitis dapat dicegah dengan menjaga kebersihan mulut secara konsisten dan menerapkan kebiasaan sehat, antara lain:
Menyikat gigi minimal dua kali sehari dengan teknik yang benar
Menggunakan benang gigi setiap hari
Berkumur dengan obat kumur antiplak sesuai rekomendasi dokter
Menghindari konsumsi makanan tinggi gula secara berlebihan
Periksa ke dokter gigi setiap 6 bulan untuk evaluasi dan pembersihan profesional
Meningkatkan asupan nutrisi, khususnya vitamin C dan antioksidan
Gingivitis pada Anak
Pada anak-anak, gingivitis biasanya disebabkan oleh kebersihan mulut yang kurang dan perubahan hormonal saat pubertas.
Studi oleh Olczak-Kowalczyk et al. (2024) menunjukkan bahwa anak usia 3–7 tahun dengan kebiasaan menyikat gigi tidak teratur memiliki risiko lebih tinggi mengalami gingivitis.
Gingivitis pada Ibu Hamil
Gingivitis kehamilan terjadi akibat peningkatan kadar hormon progesteron yang menyebabkan respons inflamasi gingiva lebih kuat terhadap plak. Kondisi ini umumnya muncul pada trimester kedua dan dapat dicegah dengan perawatan gigi rutin.
Gingivitis Akut: Terjadi secara mendadak, biasanya disebabkan infeksi virus, jamur, atau trauma lokal. Respon inflamasi terlihat jelas dan bisa disertai nyeri.
Gingivitis Kronis: Jenis yang paling umum, berkembang perlahan akibat akumulasi plak jangka panjang. Gejala ringan, namun berpotensi menjadi periodontitis jika tidak ditangani.
Benavides‑Reyes et al. (2025). Clinical effects of probiotics on the treatment of gingivitis and periodontitis: a systematic review and meta-analysis. BMC Oral Health.
Ren et al. (2023). The efficacy of mouthwashes on oral microorganisms and gingivitis in patients undergoing orthodontic treatment: a meta-analysis. BMC Oral Health.
Olczak‑Kowalczyk et al. (2024). Gingivitis and Its Causes in Children Aged 3–7 Years. Diagnostics (MDPI).
Dobson, A. (2023). Gingivitis: Inflammatory and Immune Pathways. Journal of Oral Hygiene & Health.
Journal of Pharmacy and Bioallied Sciences (2024). Efficacy of oral hygiene aids in gingivitis management: An evidence-based review.
American Academy of Periodontology (2018). Comprehensive Periodontal Therapy: Consensus Statement on Gingivitis and Periodontitis.
Cochrane Oral Health Group (2015). Powered versus manual toothbrushing for oral health.
Fédération Dentaire Internationale & WHO (2016). Global Oral Health Goals and Recommendations for Gingival Disease Prevention.